Menanti Tol Getaci, Jalan Tol Pertama yang Membelah Selatan Jawa Barat

RFA
Ilutrasi Jalan Tol Getaci/Istimewa

HaiGarut– Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali mendorong realisasi pembangunan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) yang dirancang menjadi jalur tol selatan pertama di Jawa Barat, sekaligus yang pertama di Pulau Jawa. Proyek ini sebelumnya telah melalui proses lelang sejak 2020, namun pelaksanaannya sempat tertunda dan kini diproyeksikan kembali masuk dalam daftar proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) pada 2026.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan bahwa minat investor terhadap proyek Tol Getaci masih tergolong tinggi. Menurutnya, tol ini memiliki nilai strategis karena membuka akses dan konektivitas kawasan selatan Jawa Barat yang selama ini belum terlayani jaringan jalan tol.

“Peminatnya masih cukup tinggi karena ini merupakan jalur tol selatan pertama,” ujar Dedi.

Tol Getaci direncanakan memiliki panjang total sekitar 206 kilometer. Pembangunannya akan dibagi ke dalam empat seksi, yakni Gedebage–Garut Utara, Garut Utara–Tasikmalaya, Tasikmalaya–Patimuan, serta Patimuan–Cilacap. Total nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp37,4 triliun.

Pembangunan akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup ruas Gedebage hingga Ciamis, sementara tahap kedua menghubungkan Ciamis dengan Cilacap. Proses pembebasan lahan tahap awal telah dilakukan pada 2021–2022, sedangkan pembebasan lahan tahap kedua diproyeksikan berlangsung pada 2026–2027.

Dedi menjelaskan, apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, konstruksi Tol Getaci ditargetkan selesai pada 2029. Jalan tol tersebut diharapkan mulai beroperasi pada Juli 2029, sesuai dengan target awal perencanaan.

Tol Akses Patimban Capai Progres 80 Persen

Selain Tol Getaci, Dedi Mulyadi juga memaparkan perkembangan proyek Tol Akses Patimban yang kini telah menunjukkan progres signifikan. Dari total lima paket pekerjaan, empat paket telah berjalan dengan tingkat penyelesaian mencapai sekitar 80 persen. Satu paket pekerjaan lainnya dijadwalkan mulai dilaksanakan pada tahun depan.

Tol Akses Patimban memiliki panjang total 37,7 kilometer dan masih berada dalam tahap pengadaan lahan. Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp8,9 triliun, dengan sekitar Rp3,8 triliun di antaranya telah dikontrakkan untuk kebutuhan pembebasan lahan dan konstruksi.

Jika rampung, tol ini akan menghubungkan langsung Jalan Tol Cipali dengan Pelabuhan Patimban. Akses tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem logistik nasional serta mendukung kelancaran distribusi barang dari dan menuju kawasan industri di Jawa Barat.

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Dedi menegaskan bahwa pembangunan tiga proyek tol strategis tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan konektivitas transportasi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

Ia mencontohkan kawasan Patimban yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat industri dan pelabuhan terpadu. Pengembangan kawasan tersebut akan disesuaikan dengan rencana tata ruang agar memberikan dampak ekonomi yang optimal.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menyiapkan dukungan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, baik pada tahap konstruksi maupun operasional. Kebutuhan material pembangunan seperti pasir, batu, dan kerikil pun akan diprioritaskan dari sumber lokal di wilayah Jawa Barat.

“Setidaknya ada sejumlah peran yang dijalankan pemerintah daerah dalam mendukung proyek strategis nasional, baik di kawasan Cekungan Bandung maupun wilayah Rebana,” pungkas Dedi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup