Bupati Garut Genjot IPM dan Pariwisata, Disdik Garut Liburan Jogja

HaiGarut – Pemerintah Daerah Kabupaten Garut menetapkan pariwisata sebagai pilar utama perkembangan wilayah pada tahun 2026. Dengan arahan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, berbagai perbaikan dan kampanye promosi destinasi lokal terus dipercepat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Dodol yang terkenal itu.

Namun, di tengah antusiasme itu, muncul gambaran yang sangat berbeda. Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menyelenggarakan acara dengan nama “Pembinaan Disiplin ASN Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Tahun 2026” dari tanggal 15 hingga 17 Januari 2026, dan tempatnya adalah Yogyakarta. Hal ini terlihat dari banner yang dipajang, yang mencantumkan judul lengkap acara beserta jadwal dan dukungan dari Bank Jabar Banten (BJB).

Bukan seperti kegiatan formal untuk meningkatkan kedisiplinan pegawai negeri sipil (ASN), rekaman video yang menyebar luas di grup WhatsApp justru memperlihatkan atmosfer santai penuh kesenangan. Dalam satu klip yang diambil di dalam bus, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Wawan Budiman, tampak memimpin doa sebelum perjalanan dimulai. Tapi segera setelah itu, suasana bus menjadi gaduh. Tercium lagu karaoke dengan lirik “Panas… panas… panas… haredang… haredang” yang dinyanyikan oleh seseorang di bagian depan. Kamera lalu fokus pada Asep Wawan Budiman yang tertawa ceria sambil mengangkat jari telunjuknya, seakan menikmati momen tersebut.

Kegembiraan yang sama juga terlihat ketika kelompok itu tiba di objek wisata di Yogyakarta. Dalam video berbeda, segerombolan pria dan wanita bersama-sama bersorak, “Siapa kita? Disdik Garut! Luar biasa!” dengan energi tinggi dan gelak tawa.

Situasi ini menarik kritik dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Dudi Supriadi, pengamat kebijakan publik. Ia menggambarkan rekaman kegiatan Dinas Pendidikan Garut itu sebagai “menarik sekaligus paradoks.”

“Di saat Bupati Garut sedang fokus dan sungguh-sungguh memajukan pariwisata lokal, justru instansi di bawahnya tidak menunjukkan keselarasan. Ini benar-benar bertolak belakang,” komentar Dudi ketika diminta pendapat.

Ia juga mempertanyakan perlunya mengadakan pembinaan ASN ke luar wilayah, terutama ke Yogyakarta. “Apakah di Garut tidak tersedia lokasi yang memadai? Padahal Garut memiliki banyak tempat wisata dan sarana yang bisa digunakan,” tuturnya.

Dudi beranggapan, lebih bijak jika acara itu dilakukan di dalam Garut sendiri. Selain lebih praktis, langkah tersebut bisa menjadi bentuk dukungan konkret terhadap agenda bupati untuk memasarkan pariwisata setempat.

“Jika tujuannya memang pembinaan, mengapa tidak sekaligus memperkenalkan wisata Garut? Itu baru sesuai dengan arah kepala daerah. Jangan biarkan program di bawah satu payung malah saling menentang,” tegasnya.

Hingga penerbitan berita ini, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Garut mengenai alasan memilih Yogyakarta sebagai venue serta isi sesungguhnya dari pembinaan disiplin yang dilakukan.

Kejadian ini menjadi poin penting di tengah usaha Pemerintah Kabupaten Garut untuk meningkatkan reputasi dan pesona pariwisata daerah. Masyarakat kini menanti, apakah insiden ini akan dijadikan bahan introspeksi, atau sekadar berlalu tanpa perubahan signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup