Dari Iseng Jadi Cuan: Gaya Gen Z Bangun Bisnis Modal Minim

RFA
Ilustrasi Jualan Online

HaiGarut – Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan dan naiknya kebutuhan hidup, generasi muda tak lagi menunggu peluang datang. Dengan bermodalkan gawai dan dana terbatas, Gen Z kini membuktikan bahwa usaha bisa dimulai dari modal kecil namun berpeluang besar menghasilkan keuntungan.

Fenomena ini menjadi gambaran perubahan pola pikir anak muda yang semakin mandiri dan adaptif. Jika sebelumnya usaha identik dengan modal besar dan tempat usaha tetap, kini cukup dengan kreativitas, koneksi internet, dan keberanian mencoba, peluang cuan bisa diraih dari mana saja.

Fenomena ini terlihat dari maraknya usaha rumahan yang dijalankan oleh pelajar, mahasiswa hingga anak muda di berbagai daerah. Produk yang dijajakan pun beragam, mulai dari jajanan kekinian, minuman literan, hingga jasa digital berbasis media sosial.

Aktivitas jualan ini tidak jarang dimulai dari iseng mengisi waktu luang, namun perlahan berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Bahkan, sebagian pelaku mengaku mampu membantu ekonomi keluarga dari usaha sederhana yang mereka rintis sendiri.

“Dulu mikir usaha harus punya uang banyak. Sekarang cukup modal Rp30 ribu, saya sudah bisa jualan makaroni pedas lewat TikTok,” ujarRaffi (21), Mahsiswa asal Garut, Jumat (2/1/2026).

Cerita Raffi menjadi potret nyata bagaimana media sosial kini bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ladang bisnis baru bagi anak muda. Konten sederhana, dikemas jujur dan apa adanya, justru lebih mudah menarik perhatian calon pembeli.

Jajanan Viral Jadi Andalan

Salah satu sektor yang paling digemari Gen Z adalah makanan ringan. Produk seperti makaroni pedas, basreng, rice bowl anak kost, dessert box mini hingga es kopi liter menjadi primadona. Selain murah, bahan bakunya mudah didapat di pasar tradisional maupun toko online.

Tren jajanan viral di media sosial turut mendorong penjualan. Banyak pelaku usaha yang memanfaatkan momentum konten FYP untuk memperkenalkan produknya tanpa harus mengeluarkan biaya promosi.

Dengan modal Rp30 ribu hingga Rp50 ribu, pelaku usaha pemula bisa meraih omzet dua kali lipat dalam sehari. Strategi penjualannya pun sederhana, yakni memanfaatkan WhatsApp Story, TikTok, dan Instagram sebagai etalase gratis.

Konsistensi upload dan interaksi dengan pembeli menjadi kunci agar produk tetap diingat dan dibeli ulang.

Bisnis Digital Tanpa Modal Fisik

Tak hanya makanan, anak muda juga mulai melirik sektor jasa digital. Jasa edit video TikTok, penjualan preset foto Instagram, desain stiker WhatsApp, hingga menjadi admin toko online kini semakin diminati.

Jenis usaha ini dinilai cocok dengan karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi dan tren digital. Selain fleksibel, bisnis jasa juga bisa dijalankan sambil sekolah atau kuliah.

“Modalnya cuma skill sama kuota internet. Sekarang saya bisa dapat Rp500 ribu sampai Rp1 juta per bulan dari jasa edit video,” tutur Rina (21), mahasiswi yang menjalankan usaha dari rumah.

Model bisnis ini dianggap lebih fleksibel karena bisa dijalankan tanpa stok barang dan tidak terikat tempat.

Parfum Refill dan Thrift Ikut Meramaikan

Usaha lain yang mulai ramai dijalankan Gen Z adalah parfum refill kemasan mini serta penjualan baju bekas layak pakai atau thrift. Dengan konsep ramah di kantong dan tampilan kemasan menarik, produk ini cepat diterima pasar, khususnya kalangan remaja.

Selain mengikuti tren, konsep keberlanjutan dan harga terjangkau menjadi nilai tambah yang membuat usaha ini terus diminati.

Harga jual yang terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu, membuat pembeli tak berpikir panjang untuk melakukan repeat order.

Media Sosial Jadi Senjata Utama

Keberhasilan usaha Gen Z tak lepas dari pemanfaatan media sosial. TikTok Live, Reels, hingga status WhatsApp menjadi sarana promosi efektif tanpa biaya iklan.

Anak-anak muda juga lebih berani tampil langsung di depan kamera, membangun personal branding, hingga menciptakan nama produk yang unik dan mudah diingat.

Pendekatan yang santai, jujur, dan relatable justru membuat calon pembeli merasa dekat dan percaya.

Dari Coba-coba Menjadi Sumber Penghasilan

Tren ini membuktikan bahwa keterbatasan modal bukan lagi penghalang untuk memulai usaha. Justru dari langkah kecil itulah, banyak anak muda kini mulai membangun kemandirian ekonomi.

“Awalnya cuma iseng. Sekarang malah bisa bantu orang tua dan bayar kebutuhan sendiri,” kata Raffi menutup perbincangan.

Di era digital seperti sekarang, peluang terbuka lebar. Tinggal keberanian untuk memulai, meski dari modal yang sangat sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup