Garut Bersiap “Upgrade” Tata Ruang, Tol Getaci Siap Membuka Peluang Cuan Pelaku UMKM
HaiGarut – Pemerintah Kabupaten Garut tengah berada pada titik penting dalam sejarah pembangunan wilayahnya karena diminta untuk segera menyiapkan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang bertujuan menyesuaikan pembangunan Tol Getaci (Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap), proyek strategis nasional yang diprediksi tidak hanya akan mempercepat mobilitas dan konektivitas antarwilayah, tetapi juga secara signifikan membuka peluang ekonomi baru di sekitar gerbang tol dan kawasan sekitarnya, sehingga masyarakat lokal dapat merasakan manfaat langsung melalui pertumbuhan UMKM, peningkatan akses distribusi barang, dan munculnya pusat-pusat ekonomi yang sebelumnya belum tergarap.
Sejauh ini, proses pembebasan lahan untuk tol tersebut telah berjalan, dengan pembayaran ganti rugi yang sudah diterima oleh warga di beberapa desa seperti Talagasari, Cangkuang, Hegarsari, dan Karangtengah, dan progres pembebasan lahan di Garut dilaporkan mencapai sekitar 50 persen, yang menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan administratif dan teknis, proyek ini terus bergerak dan mempersiapkan wilayahnya untuk fase konstruksi yang lebih masif, sementara koordinasi antara pemerintah pusat, Pemkab Garut, dan DPRD Jawa Barat terus digencarkan agar tol ini tidak hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga selaras dengan rencana pembangunan wilayah yang lebih luas dan berkelanjutan.
Tol Getaci sendiri direncanakan memiliki beberapa gerbang strategis dari utara ke selatan, mulai dari Junction Gedebage di Bandung sebagai titik awal yang terhubung dengan tol lain, dilanjutkan dengan Majalaya dan Nagreg sebagai akses ke Bandung Selatan, Garut Utara dan Selatan yang akan langsung berdampak pada warga lokal, kemudian Singaparna dan Tasikmalaya untuk mempermudah akses ke kota, Ciamis dan Banjar untuk memperlancar distribusi barang, hingga berakhir di Patimuan/Cilacap di Jawa Tengah, sehingga keberadaan gerbang-gerbang ini diharapkan tidak hanya menjadi titik persinggahan kendaraan, tetapi juga sebagai pintu masuk bagi investasi dan kegiatan ekonomi yang akan mendukung perkembangan UMKM serta bisnis lokal secara lebih masif.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan tol ini beroperasi penuh pada tahun 2026, dan dengan adanya revisi RTRW yang disiapkan secara matang, tol ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar jalur transportasi; ia diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi lokal yang nyata, meningkatkan mobilitas masyarakat, memperlancar arus logistik, dan membuka peluang usaha baru, sehingga Garut tidak hanya mendapatkan infrastruktur, tetapi juga kesempatan untuk melakukan transformasi ekonomi dan sosial yang signifikan, menjadikan wilayah ini lebih dinamis, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan pembangunan jangka panjang.
Saat ini Garut sedang mengalami fase transformasi yang menyeluruh, di mana pembangunan tol, pembaruan tata ruang, dan munculnya peluang ekonomi baru berjalan beriringan, memberikan alasan kuat bagi masyarakat, pelaku usaha, dan investor untuk optimis bahwa beberapa tahun ke depan wilayah ini akan tampil lebih hidup, lebih dinamis, dan lebih terbuka terhadap perkembangan ekonomi yang inklusif.













