Malam Tahun Baru yang Penuh Doa: Gubernur Dedi Mulyadi Pilih Solidaritas dan Kehangatan Keluarga di Tengah Bencana

RFA

HaiGarut – Di tengah gemerlap malam pergantian tahun 2025 menuju 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memilih jalan yang berbeda. Alih-alih pesta pora yang biasa, ia mengajak masyarakat untuk berkumpul dalam doa bersama di Masjid Gedung Sate, Kota Bandung, pada Rabu malam (31/12/2025). Acara ini bukan sekadar ritual, melainkan ungkapan solidaritas mendalam untuk para korban bencana alam yang melanda Aceh dan Sumatera Utara. “Ya, doa ada di masjid Gedung Sate. Dan ya, manfaatkan liburan tahun baru untuk berbahagia,” kata Dedi dengan nada hangat saat ditemui di Gedung Pusat Kebudayan, Kota Bandung, Selasa (30/12/2025).

Dalam suasana yang penuh empati, Dedi mengingatkan pentingnya merayakan pergantian tahun dengan cara sederhana. Sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka yang sedang berjuang pulih dari bencana, ia tegas melarang penggunaan kembang api. “Saya mengimbau pada semuanya untuk tidak berpesta kembang api,” ujarnya, menekankan bahwa kebahagiaan sejati datang dari hati yang bersyukur, bukan dari ledakan warna-warni di langit.

BACA JUGA:
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Kerap Jadi Sasaran Hoaks, Simak Faktanya

Di balik sikapnya yang tegas sebagai pemimpin, Dedi juga membuka sedikit tentang sisi pribadinya. Malam pergantian tahun ini, ia akan menghabiskan waktu bersama putri kesayangannya, Hiyang Sukma Ayu Mulyadi. “Ya, ngasuh Ni Hyang-nya ke mana, itu rahasia saya. Iya, sama Ni Hyang, kan tinggal satu anaknya. Yang dua sudah gede-gede. Saya malam tahun baru bersama Ni Hyang anak kesayangan saya. Persoalan saya beradi di mana, itu hak pribadi saya bersama Ni Hyang,” jelasnya dengan senyum penuh kasih sayang. Momen ini menggambarkan Dedi bukan hanya sebagai gubernur yang peduli pada rakyat, tapi juga sebagai ayah yang hangat, memilih kebersamaan keluarga di atas kemeriahan publik.

Imbauan Kapolda Jabar: Perayaan Sederhana sebagai Wujud Empati

Sebelumnya, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan turut menggaungkan pesan serupa. Ia menganjurkan agar pergantian tahun baru dirayakan secara sederhana, tanpa kemewahan berlebihan. Salah satu saran utamanya adalah menggelar doa bersama, khususnya untuk mendoakan para korban bencana alam. “Kita mohon kepada Ilahi, Allah SWT, supaya bencana ini tidak melanda kita kembali dan saudara-saudara kita diberikan kemudahan serta kekuatan untuk kembali hidup normal,” ungkap Rudi di Markas Polda Jawa Barat.

Rudi menegaskan bahwa perayaan tahun baru seharusnya menjadi kesempatan untuk refleksi dan solidaritas. Larangan kembang api, menurutnya, bukan hanya soal keamanan, tapi juga ekspresi empati mendalam terhadap sesama. “Karena kita berempati, maka itu dilarang. Kita merasa prihatin kepada seluruh saudara-saudara kita yang terkena bencana,” katanya. Pesan ini sejalan dengan semangat Dedi, menunjukkan bagaimana pemimpin daerah dan aparat keamanan bersatu untuk membangun budaya perayaan yang lebih bermakna.

Dalam era di mana bencana alam sering menguji ketahanan bangsa, inisiatif seperti ini menjadi inspirasi. Pergantian tahun bukan lagi tentang pesta semata, melainkan tentang doa, empati, dan kebersamaan—sebuah langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar. Apakah Anda siap merayakan tahun baru dengan cara yang lebih bermakna?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup