Tragedi Brutal Medan: Anak SD Tikam Ibu 26 Kali, Terobsesi Murder Mystery dan Anime Detective Conan
HaiGarut – Sumatera Utara, sebuah kejadian mengerikan mengubah pagi hari menjadi mimpi buruk bagi sebuah keluarga. Wanita berusia 42 tahun dengan inisial F kehilangan nyawanya secara tragis akibat serangan dari anak laki-lakinya sendiri, AI, yang masih berusia 12 tahun. Insiden berdarah ini berlangsung di rumah mereka sendiri, meninggalkan luka mendalam bagi semua pihak yang terlibat.
Pada Rabu, 10 Desember 2025, sekitar pukul 04.00 WIB, rumah itu menjadi saksi bisu dari kekejaman yang tak terduga. F meninggal dunia dengan 26 luka tusuk di tubuhnya, hasil dari serangan menggunakan pisau. Keluarga, teman kerja, dan tetangga korban masih belum bisa pulih dari keterkejutan. Masyarakat luas pun terperangah, sulit mempercayai bahwa seorang anak kecil seperti AI mampu melakukan pembunuhan sedemikian keji. Bahkan, beberapa orang mulai menuding suami korban sebagai tersangka utama, terutama karena hubungan mereka yang sudah lama tidak baik.
AI memiliki fisik yang cukup menonjol dibandingkan teman sebayanya. Tingginya hampir setara dengan ibunya, sehingga terlihat lebih matang dari usianya. Ketika dibawa oleh penyidik dari PPA Satreskrim Polrestabes Medan ke RS Bhayangkara, tinggi badannya nyaris sama dengan penyidik wanita yang mengawalnya. Ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya mendorong AI melakukan hal ekstrem ini?
Kepala lingkungan di daerah tersebut, Toni, membagikan informasi awal tentang alasan di balik tindakan AI. Berdasarkan cerita dari suami korban, AI merasa kesal karena ibunya telah memarahi kakaknya. “Pelakunya adalah anak paling kecil dari korban. Menurut ayahnya, malam sebelumnya kakaknya itu dimarahi oleh korban, entah karena sindiran atau hal lain,” ungkap Toni dalam percakapan singkat. Namun, Toni tidak bisa mendapatkan detail lebih lanjut karena suami korban masih sangat terpukul dan terus menangis.
Setelah peristiwa itu, jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk pemeriksaan medis. Sementara itu, AI semula ditahan di Polsek Sunggal sebelum dipindahkan ke Polrestabes Medan. Kronologi lengkap kejadian, seperti yang dijelaskan oleh Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, mengungkap rangkaian peristiwa yang menegangkan.
Malam itu, korban tidur bersama kedua anaknya—AI dan kakaknya—di kamar lantai satu, sedangkan suami tidur terpisah di lantai dua. Hubungan antara korban dan suaminya memang sudah renggang, hal ini dikonfirmasi oleh rekan kerja suami. Meski masih tinggal satu rumah, harmoni keluarga sudah lama hilang. Mereka berbagi kasur bertingkat: korban dan AI di bagian atas, kakak AI di bawah.
Sekitar pukul 04.00 WIB, AI tiba-tiba bangun dan menatap ibunya yang sedang tidur di sampingnya. Amarah yang selama ini tertahan akhirnya meledak. Ternyata, ini bukanlah impuls mendadak. AI sudah memikirkan rencana serupa sejak 22 November 2025, dipicu oleh rasa frustrasi terhadap ibunya yang sering memarahinya, memarahi kakaknya, bahkan memukul kakaknya dan mengancam dengan pisau ke AI, kakaknya, serta ayahnya.
AI bangun, mencuci wajahnya, lalu pergi ke dapur untuk mengambil pisau dengan maksud melukai korban. Ia bahkan membuka bajunya agar tidak kotor oleh darah. “Adik memandangi korban yang tidur di sampingnya, yang semakin memicu kemarahan. Adik mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban. Ketika ditanya mengapa baju dibuka, ia menjawab agar tidak ternoda jika ada luka yang mengotori bajunya,” jelas Calvijn.
Selama menusuk ibunya, tubuh korban menimpa kakak AI, yang terbangun karena terkejut. Kakaknya berusaha merebut pisau dan melemparkannya hingga lepas dari tangan AI. Namun, AI mengambil pisau kecil lain dari dapur dan mencoba melukai ibunya lagi. Kakak AI menutup pintu kamar untuk mencegahnya masuk. Setelah itu, AI berhasil melukai ibunya sekali lagi. Kakak AI berlari ke lantai dua untuk membangunkan ayahnya dan memberitahu bahwa AI telah melukai ibunya. Mereka berdua turun ke lantai satu untuk memeriksa kondisi korban.
Pada saat itu, korban masih hidup. Kakak AI dan ayahnya menyandarkannya ke lemari. Korban juga meminta minum, yang diberikan oleh kakak AI. Sementara itu, suami korban menelepon rumah sakit, dan ambulans tiba sekitar pukul 05.40 WIB. Namun, saat diperiksa di rumah sakit, korban sudah meninggal. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan korban F menderita 26 luka tusuk, seperti yang disampaikan oleh dr. Altika dari RS Bhayangkara Medan dalam konferensi pers di Polrestabes Medan.
Mengapa AI memilih pisau sebagai senjata? Polisi menemukan bahwa AI terobsesi dengan game online Murder Mystery, di mana karakter membunuh orang lain menggunakan pisau. Selain itu, ia juga terpengaruh oleh serial anime Detective Conan yang sering menampilkan adegan pembunuhan dengan pisau. “Bagaimana obsesi pelaku dalam melakukan tindak pidananya? Adik melihat game Murder Mystery di mana karakter membunuh orang lain dengan pisau. Oleh karena itu, pelaku menggunakan pisau saat melakukan tindakannya. Ia juga menonton serial anime DC yang menunjukkan adegan pembunuhan menggunakan pisau,” kata Calvijn.
Untuk menjawab dugaan masyarakat tentang keterlibatan suami korban, polisi melakukan pemeriksaan DNA melalui Laboratorium Forensik Polda Sumut. “Kami sudah memeriksa DNA-nya dan tidak ada yang mengarah ke ayah,” ujar Kasubbid Kimia Biologi Bid Labfor AKBP Hendri Ginting dalam konferensi pers di Polrestabes Medan. Hendri menjelaskan bahwa mereka memeriksa DNA di pisau dan percikan darah di rumah. Selain DNA AI, pisau tersebut juga memiliki DNA korban karena itu adalah pisau dapur yang sering digunakan korban. Pisau itu juga memiliki DNA kakak AI, karena ia berusaha merebutnya saat kejadian. Adapun darah yang tercecer dari lantai satu ke lantai dua adalah darah kakak AI saat ia berlari memanggil ayahnya.
Lalu, bagaimana kondisi psikologis AI yang membuatnya berani melakukan pembunuhan terhadap ibunya? Psikolog forensik Irna Minauli mengungkapkan bahwa AI memiliki kecerdasan yang luar biasa dan sering mendapatkan penghargaan. Ia juga telah menganalisis kondisi mental AI, dan tidak menemukan adanya gangguan mental. Selain itu, tidak ada tanda-tanda gangguan perilaku atau conduct disorder pada AI. Gangguan perilaku ini, jika tidak ditangani, bisa berkembang menjadi psikopat. Namun, dalam kasus ini, tidak ada indikasi seperti itu. “Misalnya, anak dengan conduct disorder sering melanggar aturan, melukai hewan atau barang-barang, tapi itu tidak terlihat pada anak ini,” jelas Irna.
Irna menegaskan bahwa tindakan AI bukan disebabkan oleh gangguan mental, melainkan dipicu oleh faktor-faktor seperti pengalaman menyaksikan kekerasan. Emosi yang belum stabil membuatnya menahan amarah hingga akhirnya meledak tak terkendali. Kakak AI lebih sering menjadi sasaran kekerasan dari ibu, tapi AI merasa sangat terluka karena hubungannya yang sangat dekat dengan kakaknya. “Hubungan antara kakak dan adik ini lebih kuat daripada hubungan anak dengan orang tua. Kakak menjadi panutan bagi adik, dan selalu mendampingi dalam berbagai situasi, sehingga kesedihan atau luka yang dialami kakak sangat mengganggu adik. Saya juga menangani kakak secara psikologis, dan ternyata kakak tidak sekesal adik terhadap perlakuan ibu karena ia berusaha memahami situasinya,” kata Irna.
Ia menambahkan bahwa dari penyelidikan mendalam, kakak dan AI sudah mengalami kekerasan dari ibu selama sekitar 3 tahun, terutama setelah hubungan orang tua mereka memburuk. “Kira-kira 3 tahun lalu, ibu terlihat semakin mudah marah. Secara psikologis, ini bisa dipahami sebagai displacement, yaitu mengalihkan kemarahan yang sebenarnya ditujukan pada suami ke anak-anak.”
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pengaruh media dan dinamika keluarga yang sehat. Polisi terus menyelidiki untuk memastikan keadilan. Untuk informasi lebih lengkap, simak artikel detiksumut berjudul “Perjalanan Kasus Anak SD Bunuh Ibu di Medan Terobsesi dari Game Online-Anime












