Viral! Warga Pekenjeng Garut Terjebak Banjir Besar di Aceh, Menangis Minta Bantuan untuk Bisa Pulang
HaiGarut — Seorang pemuda asal Kabupaten Garut bernama Imam (27) menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Dalam video tersebut, Imam yang merupakan warga Desa Tegal Gede, Kecamatan Pakenjeng, tampak menangis meminta bantuan pemerintah untuk bisa pulang ke kampung halamannya.
Imam bekerja di Aceh sebagai pekerja harian. Namun, wilayah tempatnya bekerja kini terdampak banjir besar yang melumpuhkan seluruh aktivitas, sehingga ia mengalami kesulitan akses makanan hingga transportasi.
Dengan suara bergetar dan tubuh basah kuyup, Imam memohon pertolongan:
“Nyungkeun bantosan ka pemerintah, ka bapak gubernur, bupati… abdi hoyong enggal dibantos uih,” ungkapnya dalam video.
Permintaan itu menjadi semakin mendesak karena istrinya di Garut sedang hamil dan menunggu kepulangannya.
Kepala Desa Tegal Gede, Dona Kartika, membenarkan bahwa pria dalam video viral tersebut merupakan warganya.
“Benar, itu warga kami bernama Imam. Setelah mengetahui videonya ramai, kami langsung menghubungi keluarganya. Istrinya memang sedang mengandung,” kata Dona saat dikonfirmasi, Senin (02/12/2025).
Menurutnya, pemerintah desa telah bergerak cepat melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan hingga Pemkab Garut.
“Kami berharap pemerintah kabupaten bisa mengambil langkah agar Imam bisa segera kembali dan berkumpul dengan keluarganya,” ujarnya.
Dona menyebut kondisi Imam cukup mengkhawatirkan karena Aceh masih dalam keadaan banjir dan akses bantuan terbatas.
“Kami yakin pemerintah daerah melalui Bupati akan memberikan solusi terbaik. Yang terpenting, keselamatan warga kami,” tambahnya.
Warganet serta masyarakat Garut ramai-ramai menyampaikan simpati dan doa lewat komentar di media sosial, berharap pemerintah cepat turun tangan.
Mereka meminta agar Imam bisa segera pulang dan mendampingi istrinya dalam kondisi kehamilan.
Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir diketahui membuat banyak pekerja pendatang terjebak tanpa kejelasan kapan dapat kembali ke daerah asal. (Red)













