Wow ! Kabupaten Garut dan Bayang-Bayang Kemiskinan,PR Besar Abdusy Syakur
HaiGarut – Angka pengangguran di Kabupaten Garut menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah daerah menilai penurunan ini sebagai dampak dari mulai menggeliatnya sektor usaha, pelaksanaan pelatihan kerja, serta program padat karya yang digulirkan hingga ke tingkat kecamatan.
Meski demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Data internal pemerintah daerah menunjukkan sekitar 66,5 persen penduduk Garut masih masuk kategori miskin dan rentan, yakni kelompok yang hidup dalam kondisi ekonomi tidak stabil dan mudah terperosok ke kemiskinan ekstrem.
Bekerja, Tapi Belum Sejahtera
Menurunnya pengangguran tidak otomatis menandakan membaiknya kualitas hidup. Banyak warga memang sudah bekerja, namun mayoritas terserap di sektor informal, seperti buruh tani, pekerja harian lepas, atau pelaku usaha mikro dengan pendapatan yang tidak menentu.
Secara statistik, mereka tidak lagi tercatat sebagai pengangguran. Namun secara nyata, penghasilan yang fluktuatif membuat pemenuhan kebutuhan dasar mulai dari pangan, pendidikan, hingga layanan kesehatan masih jauh dari aman dan sering kali bergantung pada bantuan pemerintah.
“Sekarang kerja memang ada, tapi tidak pasti. Hari ini dapat upah, besok belum tentu,” ujar seorang warga di wilayah selatan Garut.
Dua Pertiga Penduduk Masih Bergantung Bantuan
Persentase 66,5 persen mencerminkan luasnya kelompok masyarakat yang hidup dalam kondisi rentan. Mereka bukan hanya warga di bawah garis kemiskinan, tetapi juga mereka yang berada sedikit di atasnya dan sangat mudah jatuh miskin akibat guncangan ekonomi, seperti sakit, gagal panen, atau kehilangan pekerjaan.
Kelompok ini masih sangat bergantung pada berbagai program bantuan sosial, mulai dari bantuan pangan, subsidi layanan kesehatan, hingga bantuan tunai. Namun di lapangan, persoalan pendataan kerap membuat bantuan tidak tepat sasaran. Ada warga yang layak menerima justru terlewat, sementara yang kondisinya sudah membaik masih tercatat sebagai penerima.
Ketimpangan Wilayah dan Masalah Data
Ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih menjadi tantangan di Garut. Akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, serta peluang kerja belum merata. Daerah terpencil cenderung minim industri dan infrastruktur, sehingga warganya bertahan di sektor tradisional dengan produktivitas rendah.
Di sisi lain, pembaruan data kesejahteraan yang belum optimal memperparah persoalan. Akurasi data menjadi kunci agar kebijakan dan bantuan sosial benar-benar menyasar kelompok paling membutuhkan.
PR Besar Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Garut kini dihadapkan pada tantangan besar tidak hanya menurunkan angka pengangguran, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan. Tanpa peningkatan kualitas pekerjaan, penurunan pengangguran berpotensi hanya menjadi catatan statistik semata.
Perbaikan sistem pendataan kemiskinan juga menjadi pekerjaan mendesak agar program perlindungan sosial lebih tepat sasaran dan berdampak nyata.
Antara Angka dan Realitas
Penurunan pengangguran layak diapresiasi. Namun kenyataan bahwa lebih dari separuh warga Garut masih hidup dalam kondisi rentan menegaskan bahwa jalan menuju kesejahteraan masih panjang.
Selama pekerjaan layak belum tersedia secara luas dan data kemiskinan belum sepenuhnya akurat, Garut akan terus menghadapi ironi: pengangguran menurun, tetapi kerentanan ekonomi tetap membayangi kehidupan sebagian besar warganya.











